Pendakian Puncak Merbabu

Sebenarnya tidak ada perencanaan sama sekali untuk minggu ini saya mendaki gunung manapun itu, uang sayapun sama seperti minggu – minggu biasa, tanpa adanya tambahan untuk hal – hal lain. Cukup untuk makan , dan keperluan perkuliahan.

Di depan C saya mengobrol dengan teman – teman seangkatan, lewat obrolan tersebut  saya baru tahu, mereka ingin mendaki gunung Merbabu pada hari sabtu minggu, 29-30 september 2012. Baru sadar ternyata info tersebut sudah di tag di FB group Elektro 07, dengan ”kode” sabtu minggu setengah 1 dari Mima. Cuma memang kelihatannya saya kurang memperhatikan “kode” tersebut. Saya di tawari untuk ikut naik bersama  mereka.

Awalnya saya tertarik untuk ikut bersama mereka, belum pernah juga naik gunung Merbabu dan penasaran pikir saya, terakhir kali naik gunung waktu SMA, saya bergabung dalam team Pecinta Alam, itupun kami mendaki gunung Ungaran yang tak setinggi Merbabu. Ketertarikan itu, mulai pudar ketika saya melihat isi dompet, yang saya rasa tak cukup untuk melakukan persiapan pendakian beli ini , beli itu , sewa…dll. Saya mencoba mencari pinjaman uang hahahahaha..,dan rencana saya kembalikan minggu depannya, Cuma saat itu anak – anak yang kutemui pada tidak bisa, ya saya juga memahami tanggal –tanggal itu merupakan tanggal “kritis” bagi kalangan mahasiswa, apalagi yang anak kos..saya sangat memahami itu. Saya menjadi tak terlalu memaksakan keinginan saya untuk melakukan pendakian.

Malam hari (kamis malam) tiba – tiba saya mendapatkan info pendakian dari teman  saya ius, dia salah satu dari 14anak (tanpa saya)  yang berencana mendaki gunung Merbabu. Dengan melihat sikon saya menolak, dengan alasan yang sudah saya bilang tadi.

Jumat malam sebelum pendakian , saya bertemu lagi dengan ius dan teman – teman di tempat makan ,mereka selesai berbelanja untuk persiapan pendakian besok pagi. Dan saat itu teman – teman mengajak saya lagi, hahahahaha…>,<

“kae lho dwek gelem ngutangi sek…” terang ius

“ki lho duwetku gek telong puluh ewu thok,cukup pora?” sambil mengeluarkan 2 lembar uang dari dompet, sepuluh ribu dan dua puluh ribu.

“wes mangan sek wae, cukup – cukup” sahut Bas.

“bar iki , nang omahe urgi yo, persiapan”

Untuk membayar makan delapan ribu, jadi tinggal Rp 22.000 =,= saya pikir ini benar – benar uang yang sangat tipis untuk keperluan persiapan pendakian, ya walaupun uang patungan untuk pendakian sudah di bayarkan oleh teman saya urgi, saya juga butuh keperluan pribadi, seperti snack , mie, minuman, obat – obatan dll. Saya  ga tahu kenapa , mungkin rasa ketertarikan yang besar ya.., mengalahkan pemikiran permasalahan keuangan ini hahahaha, dan teman saya urgi juga sudah mau membantu meminjami saya uang, ini sudah cukup untuk menutup permasalahan awal, keuangan. Dan malam itu saya mengambil keputusan untuk ikut pendakian Merbabu bersama mereka. ^^# thanks ius yang da mau mencarikan pinjaman, dan urgi yang mau meminjamkan uang hihihi..

Selesai makan saya langsung menuju ke rumah Urgi sesuai permintaan ius ,untuk  persiapan pendakian besok. Malam itu kami melakukan packing , membagi beban bawaan dalam masing – masing tas, sehingga tidak ada yang terlalu ringan atau berat .

Keperluan pendakian segera saya persiapkan malam itu juga , jaket, baju ganti, mantel,obat – obatan,SB,peralatan makan. Untuk keperluan kelompok semua sudah di akomodir oleh teman – teman saya yang lainnya..hihihi, jadi saya lebih memfokuskan untuk perlengkapan pribadi.

Esok harinya sabtu pagi, kami berangkat dari salatiga pukul 10.30, lebih 30 menit dari waktu perencanaan kami sebelumnya,biasalah molor ^^. Kami berlima belas, yaitu Mima, Ius, Urgi , Evan, Andika tan , Tio, Narendra , Anom, Bastian,Adit ,Septyan W,Oyo, Putu, Sam dan saya  ,mulai berangkat menggunakan mobil yang telah kami sewa.

Its foto dulu kawan sebelum berangkat, cepreet….^^

Untuk menampung kami dan barang – barang bawaan, mobil yang kami tumpangi bisa di bilang kecil. Kami harus duduk berdempet – dempetan, melipat kaki kami memberikan tempat  duduk bagi teman – teman yang lain. Hahhahaha tapi seru juga, kami berjanda tertawa sepanjang perjalanan. Selang beberapa lama, saya merasakan bokong saya semakin panas, inipun juga dirasakan beberapa teman – teman saya , Narendra, Evan. Evan dengan cekatan memakai SB sebagai “lemek” bokongnya, dan saya menggunakan mantel, entah mantel siapa yang saya duduki yang penting terselamatkan bokong ini, ga mateng kepanasan hahhahaha..thanks Dit.

Sepanjang perjalanan, kami disuguhi pemandangan yang sangat indah. Udara yang sejuk, pepohonan kanan kiri ,membuat lupa akan posisi duduk kami yang tidak nyaman ini.

Untuk sampai ke basecamp keberangkatan dari wekas, kami harus melewati jalan menanjak hutan pinus. Sempat kami harus turun sebentar dari mobil , karena mobil yang kami naiki tak kuat menanjak. Lihatlah bagaimana kami dengan semangat kesatuan mendorong mobil ini.

Sampai di basecamp keberangkatan di daerah Wekas pukul 11.30, kami istirahat sejenak merenggangkan tubuh kami,pegel juga duduk sekitar satu jaman dalam posisi yang sama^^ . Dibasecamp ini di jual berbagai cindra mata ; stiker, eblem, slyer yang memperlihatkan “identitas” Gunung Merbabu. Kita bisa membelinya sebagai kenang – kenangan saat pulang nanti. Jangan kawatir jika kalian mengendarai motor atau mobil, di basecamp ini juga disediakan jasa parkir.

Pukul 12.30 kami mulai berangkat mendaki, kami harus mengisi data laporan pendakian, meliputi data nama, alamat, no hp, tempat awal pendakian, tempat pulang pendakian, asal organisasi dll.

Narsis dulu cepreeet! ^^

Di daerah persawahan kami berhenti sejenak, kami berdoa agar pendakian ini dapat berjalan dengan lancar. Baru beberapa meter nafas saya mulai terasa berat, ini fase pemanasan bagi tubuh pikir saya. Berjalan menanjak dengan beban di punggung bukan sesuatu yang mudah, kami harus pandai – pandai mengatur pernafasan memantapkan langkah demi langkah.

Medan pendakian yang kami lalui sangatlah berdebu, kami harus pelan – pelan melangkahkan kaki, supaya tidak terlalu banyak menimbulkan debu berterbangan yang dapat mengganggu teman yang berada di belakang. Rasa lelah teredam dengan pemandangan yang indah, kesejukan udara, berbagai macam kicauan burung, menyemangati kami untuk terus melangkah.

Pada persimpangan jalan kami sempat bingung , kami harus ke kiri atau kekanan. Narendra, Sam, dan Adit yang sudah berada di depan kami memilih jalur kanan, sedangkan sisanya kami memilih jalur kiri. Kami meminta mereka untuk turun, tapi mereka tetap meneruskan perjalanan,semakin menjauh dari kami. Mulai disinilah kami berpisah dari mereka bertiga, di sepanjang perjalanan kami berusaha memanggil – manggil mereka , namun tak ada jawaban, kami berteriak, menelpon lewat hp tapi sama saja., tak ada jawaban dari mereka.

Kami tetap mendaki meneruskan perjalanan, kami percaya nanti kami juga akan bertemu kembali, walaupun tak bisa di pungkiri rasa cemas kawatir itu ada..,dan kami tetap berusaha menghubungi mereka.

Rasa lelah , memberikan sinyal bahwa kami harus istirahat. Permen Hapydent dari Urgi ditambah minum, cukup mengembalikan tenaga dan semangat kami untuk mendaki kembali.  Kami menjaga jarak agar tidak saling berjauhan, saling memperhatikan dan menyemangati. Jika jarak antar kami mulai berjauhan maka teman yang di depan harus menunggu, memastikan teman di belakangnya tetap mengikuti dalam jalur yang benar ,tak tersesat.

Dalam perjalanan, saya mendapatkan kabar bahwa , Narendra, Sam dan Adit sudah sampai di atas. Syukurlah dalam hati saya. Akhirnya kami bisa bertemu kembali, meneruskan pendakian bersama sama. Rasa gemes dan plong terlihat di raut muka kami, Apalagi liat sikap Narendra., benar – benar rasanya ingin membuangnya ke laut..^^ pis!

Bagaimana kita bisa bertemu kembali? Kalian lewat jalur mana? Seperti apa medannya? Apa kalian tidak mendengar kami memanggil – manggil kalian? semua pertanyaan terjawab sudah. Kami mendengar Narendra sudah mau pingsan dalam perjalanan, untung ada Sam dan Adit yang mambantunya. Jalur  yang mereka lalui memang lebih pendek daripada jalur yang kami lalui, tetapi lebih terjal menguras lebih banyak energi ,terang Adit dan Sam.

Lima belas orang lengkap kembali. Narendra, Sam ,dan Adit yang tadi sempat terpisah, sekarang berkumpul bersama kami, kami lanjutkan perjalanan. Jalan yang terjal dan berdebu masih menjadi tantangan utama kami. Kami memakai slayer sebagai penutup hidung. Debu membuat medan menjadi licin, kami langkahkan kaki pelan – pelan, memastikan kaki kami tidak akan tergelincir. Jalur datar , adalah jalur bonus hahahahaha…, sayangnya sedikit sekali jalur datar yang kami lalui. hihi

Tidak hanya debu dan medan yang terjal menjadi tantangan bagi kami, jalan yang sempit dan bebatuan menambah sulitnya pendakian ini, kami harus ekstra hati – hati dalam menentukan langkah kaki kami, mana batu yang kuat untuk menjadi pijakan , mana yang tidak (batu hidup). Tidak boleh sembarangan  mengambil keputusan , jika salah itu sangat berbahaya bagi keselamatan diri kami, juga teman – teman yang berada di belakang kami, inilah gunanya  harus mengambil jarak satu dengan yang lain, jika medan terlalu terjal dan berbatu.

Rimbunnya pohon – pohon tampak harmoni dipadukan dengan batang – batang pohon yang lapuk mulai mengering, tak lagi berdaun. Saya menikmati setiap perjalanan, saya tidak mau terburu- buru, tidak mau ada moment yang terlewatkan. Ingin rasanya mata ini merekam semua hal – hal indah dalam perjalanan. Menikmati rasa lelah dihempaskan dengan pemandangan Anugrah Tuhan yang begitu luar biasa disamping kanan dan kiri saya. Eh jika kalian perhatikan di puncak gunung Merbabu  ada tower lho…perhatikanlah,terlihat kecilkan? ^^ dan itu jelas terlihat di mata kami, berada dekat dari kami saat itu.

Akhirnya pukul 16.30 kami sampai di basecamp ke dua, ternyata kami tidak sendirian, rame juga. Banyak kami jumpai orang – orang melakukan pendakian, membangun tenda di basecamp dua ini.

Kami segera berkumpul, Mima mencarikan tempat untuk mendirikan tenda bagi kami. Dibawah pohon ini kami mendirikan tenda sebagai tempat istirahat . Kami membagi tugas, ada yang mencari air , mendirikan tenda, mencari kayu bakar, memasak.

“Pintu tenda harus menghadap membelakangi gunung, ini untuk mengatasi dinginnya angin darat yang terjadi pada malam hari..”terang ius.

Saya kebagian mengambil air , hanya terdapat 1 tempat pengambilan air yang di gunakan bersama sama semua pendaki. Air ini berasal dari saluran air warga yang di lubangi sedikit,disinilah mencuci, mengambil air minum dilakukan parapendaki.

Masakan pertama kali kami, adalah mie goreng.

Cukup praktis untuk pendaki , kami memakai 3 kompor kecil , 2 kompor berbahan bakar gas dan 1 berbahan bakar parafin. Begitu berharganya makan disini, walaupun sedikit tapi penuh kebersamaan dan rasa syukur. Kami harus membagi makan dengan adil sama rata. Membayangkannya, seperti kami berada di penjara hehehehe ^^. Jika ditanya apakah kami kenyang, hahahaha aku jawab dengan jujur “tidak kenyang” ^^. Belum cukup untuk mengembalikan rasa lelah akibat pendakian tadi. Jadi ingat kata orang tua dirumah “nek onone sithek yo nyithek edeng” artinya , jika adanya sedikit ya sedikit – sedikit, yang penting semua kebagian.

Matahari mulai tenggelam, ini benar – benar moment yang indah, sunset. Kami berjalan mencari spot yang tepat menikmati moment ini. Tak lupa kami berfoto bersama, dengan berbagai macam gaya aksi, mulai dari yang cool, keren, sampai pose yang terkonyol,disini kami menjadi pria – pria narsis hahahaha ^^. Camdig kecilku tak lupa kubawa, membantuku merekam setiap moment yang terjadi. Ini juga mempermudahkanku dalam melakukan penulisan, pikirku.

Inilah karya Tuhan yang luar biasa indah, kami terlihat sangat kecil. Wow this is Great moment, rasa lelah dan masih lapar semua terlupakan,pemandangan ini telah  mendoping kami. ^^ kali pertama saya menikmati ini di Merbabu, dan saya percaya teman- teman yang lainpun menginginkan matahari untuk bertahan sebentar, mengijinkan kami menikmati sunset lebih lama.

Warna langit yang bagus , ungu, orange dipadukan dengan ranting – ranting pohon yang kering   membuat foto yang kami ambil terlihat jos gandos, ini semisal. Foto ini kuambil dengan memakai camdig sony kecilku, Oyo menjadi modelnya, saya ambil setengah badan.

Hari mulai gelap, udara mulai terasa dingin  di tubuh kami. Kami memakai jaket, ketu, kaos tangan menjaga kehangatan suhu tubuh . Kami berkumpul di depan api unggun, mendekatkan tubuh kami melingkar.  Jika bagian  depan tubuh kami sudah mulai hangat, kami berbalik menghangatkan tubuh bagian belakang kami. Ada juga yang menghangatkan bagian telapak tangan,kaki. Andai saja  waktu itu kita membawa ayam satu, kelihatannya lebih enak kawan hahahahaha^^ bakarrrrrr!.

Suasana hening, hanya terdengar kecil suara- suara pendaki lain yang berada agak jauh dari tenda kami. Alunan lagu didi kempot dari hp ius , menambah kehangatan malam itu. Tak sungkan kami menyanyikan sepotong bait lagunya, tak mempedulikan kejelekan suara kami.^^ gimana lagi.., dah enak og hahahaha.

Oya ini saat urgi mengeluarkan kamehameha. ^^ hihihi.

Bulan membumbung tinggi membentuk lingkaran sempurna, melirik kami dari belakang gunung Merbabu. Memancarkan sinar menyinari tebing – tebing pegunungan yang tinggi menjulang gagah di samping kami. Malam tidak begitu gelap, langit sangat cerah ,bintang – bintang jelas terlihat. Hum…Romantic..><

Malam kian larut, kami harus segera tidur dan istirahat mengingat ke esokan harinya harus bangun pagi untuk melakukan pendakian ke puncak. Tidak semua tidur di tenda , hanya tersedia dua tenda, dan itu tidak cukup untuk menampung kami semua. Ada sebagian yang tidur di luar, beralaskan matras dan  SB sebagai selimut. Saya kebagian di dalam tenda hihihi^^ duluan tidurnya hihihi.., meskipun saya memakai SB, hasil pinjaman dari teman saya Evan. Tubuh saya masih merasakan dingin, ini juga di rasakan Narendra dan Anom yang tidur bersama saya.

Pukul 5.30 pagi saya bangun, tak terihat sunrise dari tempat kami. Saya melihat teman – teman masih pada tertidur berjejer di depan tenda, seperti lemper hahahahaha pis ^^d. Tidak semua teman – teman melakukan pendakian ke puncak, hanya kami berdelapan Anom, Ius, Andika tan, Sam, Adit,Oyo , Septian, dan Saya, yang ingin melanjutkan pendakian sampai ke puncak tertinggi Merbabu. Ius dan Andika memimpin perjalanan kami, mereka lebih tahu akan jalur pendakian. Kami sarapan roti dan snack , membawa bekal 8 botol air minum, snack, roti ,yang kami bagi dalam 4 tas kecil.

Pukul 7.30 kami memulai perjalanan dari basecamp dua menuju puncak Merbabu. Udara pagi yang dingin , tingkat oksigen sedikit ,membuat kami susah bernafas. Kami harus mengambil nafas lebih dalam. Beberapa kali kami istirahat, wajar saja kami jarang mendaki, fisik belum tersetting untuk pendakian seperti ini. Semakin lama jalan yang kami lalui semakin terjal, naik ke atas. Kadang kami harus memanjat, tidak lagi dalam posisi berjalan karena kemiringan medan yang sangat besar.

Dalam perjalanan beberapa kali kami berpapasan dengan para pendaki yang lain, ada yang sudah turun ada juga yang mau naik. Karena sempitnya jalan hanya bisa dilalui satu orang, jadi saat berpapasan kami harus saling mengalah, menyapa,memberikan jalan terlebih dahulu, baru kami meneruskan perjalanan kembali.

Baru pertama kali ini saya melihat bunga adelweiis, yang masih hidup tumbuh dengan subur di sisi kanan dan kiri saya. Banyak orang menyebutnya dengan bunga keabadian, walaupun pohonnya mati bunga itu akan tetap mekar dan tak layu, bunga adelweiss melambangkan cinta yang abadi sooo sweeet ><. Ingin memetik menjadikan kenang- kenangan membawanya ke kos , sayang.., tidak diperbolehkan. Ius dan Andika mengingatkan kami untuk tidak memetik bunga ini,

“ jika terlihat dan terbukti memetik maka kita harus kembali lagi ke atas dan mengembalikannya” terang mereka berdua.

Posisi kami kian lama kian keatas, terlihat jelas pemandangan, panorama yang luar biasa di bawah kami. Pegunungan sindoro, sumbing, daerah pegunungan Dieng dengan jelas terlihat.

Ius berusaha menjelaskan berbagai macam pegunungan yang terlihat oleh kami.

“kae gunung sindoro, kae sumbing, kae daerah dieng” terangnya sambil nunjuk – nunjuk.

Itulah yang menjadi doping semangat kami untuk tetap meneruskan perjalan ke puncak Merbabu. Apa yang ada diatas sana? Seperti apa? Bagaimana rasanya? Apa yang terlihat di balik pegunungan ini? Semua pertanyaan itu menyatu dalam hati dan pemikiran kami , memacu langkah pendakian ini.

Susah di ungkapkan perasaan ketika kami mulai sampai ke pertigaan, dimana sebelah kiri menuju tower/ menara, dan yang satunya lagi menuju puncak Merbabu. Rasa ingin lekas sampai yang kian membesar, lekas menegakkan tubuh diatas sana, wow!…membuat kami lebih semangat.

Satu kata saya “Wow..!” kalau ini benar  ku bilang wow, tanpa koprol hahahaha ^^. Susah untuk mengungkapkan, kurasakan ada energi ,semangat baru masuk ke dalam tubuh. Inilah sensasi pendakian, saya yakin teman- teman saya yang lainpun merasakan ini.  Lembah rerumputan yang kering terlihat seluas mata kami memandang. Di sebelah sana , di atas sana itu puncak, yang akan kami gapai kian terasa dekat.

Tak lupa kami berfoto di tempat ini, ^^

“kae puncake” terang ius sambil menunjuk puncak – puncak Merbabu.

Dari tempat kami berada, memang terlihat dekat..itu jika ditarik garis lurus hahahaha^^.  Perjalanan benar – benar akan semakin sulit,medan lebih ektrim dari perjalanan kami sebelumnya, pikir saya. Ini akan mejadi perjalanan yang tidak mudah. Kami harus  lebih hati – hati. Tebing terjal, bebatuan besar, debu yang licin dan membuat mata perih, kian lama semakin keras menghadang laju pendakian kami, tak memberikan kemudahan bagi perjalanan kami. Tapi semangat kami akan tetap selalu membara, berkobar menaklukan segala rintangan. Mata kami sudah menuju di puncak, hati kami sudah berada di puncak, sekarang tinggal mambawa tubuh ini sampai keatas sana.

Saya salut , melihat cewek – cewek pada naik dan sampai ke puncak. Semangat yang hebat, tak mudah menyerah, fisik yang hebat. Aku akui benar – benar salut dengan cewek – cewek ini.

Inilah sedikit gambaran medan yang kami lalui yang saya abadikan dalam foto.

Ini jembatan setan, sisi kanan dan kiri sudah jurang, kami harus berhati – hati disini.

 

Pada pendakian ini kami berdepalan, melibas 3 puncak sekaligus. Pertama puncak Syarif, kedua puncak Kentheng Songo dan yang terakhir Puncak Trianggulasi.


Benar kata Ius dan Andika ,setelah kita sampai dipuncak serasa malas kita untuk kembali, memikirkan jalan untuk kembali ,benar – benar membuat malas.^^ tapi ya, kami harus kembali, tidak mungkin kami akan menginap disini hihihi.

Dari ketiga puncak , puncak Trianggulasilah yang memiliki medan yang sangat berat, untuk sampai di puncak ini , kami harus melewati sebuah tebing yang curam. Hanya menyisakan sedikit pijakan bagi kaki kami, satu persatu kami melewati tebing ini, tak boleh terburu – buru,harus tenang dan tetap fokus.

Kabut mulai naik, membatasi jarak pandang kami, dingin. Kami turun bersama – sama dengan pendaki yang lain kembali lagi ke basecamp dua. Langkah kaki kami semakin cepat, lebih cepat daripada saat kami naik. Teman – teman yang dibawah sudah menunggu kepulangan kami, ^^ jangan sampai kami kembali terlalu sore, mengingat setelah sampai di basecamp kedua, kami harus segera turun,pulang ke Salatiga.

Di tengah perjalanan, Andika tan menyempatkan diri memetik buah Ucen – ucen sebagai oleh – oleh teman kami di bawah,buah itu berwarna merah orange, seperti strowbery. Enak, terasa manis agak asam. Terdapat duri – duri di bagian batang pohon, kami harus hati – hati jika ingin memetik atau badanmu akan tergores duri – duri dan terluka.

Sesampai di basecamp dua,terlihat semua tenda – tenda sudah di rapikan, barang – barang sudah dikemasi dengan rapi di dalam tas – tas. Kami makan bersama , mengisi energi untuk perjalanan pulang. Kali ini makananya lumayan berkualitas hahahahaha ^^ pis bercanda…ada, nasi, sarden,mie goreng,saos, abon, naged .

eh bro jangan lupa foto dulu…^^ cepreeet , aseeek ^^

Sebelum kami meninggalkan tempat ,basecamp. Beberapa kera mulai turun mendekati kami. Ini pemandangan yang jarang terlihat . Melihat beberapa kera di alam liar, menambah nilai plus perjalanan pendakian kami.

Sampai di basecamp wekas, pukul 16.30 sore. Kami segera mengemasi barang – barang pulang kembali ke salatiga. Tak lupa kami membeli kenang- kenangan sebagai bukti tanda pendakian kami ke merbabu. Saya membeli stiker, seharga 2500. Hihihi^^ kebanyakan memang dari kami membeli stiker. Mima membeli tali, entah ga jelas tali apa itu, seingat saya harganya 2500 per meter. ^^

Tidak hanya jalan menanjak menjadi permasalahan kami, jalan turunpun juga membawa masalah. Mobil yang kami naiki, mengeluarkan bau kampas rem terbakar. Kami harus segera turun, terlihat asap keluar dari fleg mobil. Mobil hanya bisa masuk ke gigi dua, tidak bisa berpindah gigi. Urgi menginstruksikan untuk menyiram felg mobil dengan air ,masalahnya kami tidak bisa menemukan air disitu. Saya lupa siapa yang menyuruh Andika mengencingi felg mobilnya,  bisa kalian bayangkan felg mobil yang dalam keadaan panas kemudian di siram dengan air seni, maka akan menimbulkan uap. Bulll ….wusss! ini sangat konyol ..ketika Urgi mau masuk kedalam mobil, dia ga betah segera keluar kembali akibat bau pesing yang timbulkan. Kejadian ini membuat kami semua tertawa Wkwkwkwkwkwkwkwk ><. Tidak ada air?  gimana lagi…^^

“koplinge macet isone melbu 2 thok” kata urgi sebagai sopir kami.

Urgi  mencoba tetap menjalankan mobil dengan gigi dua. Tak mudah membawa mobil tanpa memindahkan gigi, bagaimana jika jalan itu naik dan mobil itu tak kuat, maka satu satunya jalan kami harus turun dan naik kembali. Dan Urgi ,mampu lakukan itu ,membawa mobil yang kami tumpangi tanpa memindahkan gigi dari basecamp wekas sampai salatiga , dan kami para penumpang tak sekalipun turun dari mobil. eh ada deng sekali ,mima…^^ hahahahaha. Thanks Gi dari kami, Great Driver guys.

Kami makan bersama di pancasila, menutup bulan September dengan the great moment at Merbabu Mountain.^^ dengerin lagu when september end.

Aku tak bisa menuliskan semuanya kawan, yang ada dalam pikiranku, apa yang kurasakan, yang kalian rasakan, yang akan mewakili cerita kita semua kawan – kawan. Ini akan menjadi tulisan yang sangat panjang. Dan akan menjadi lebih panjang jika kalian menuliskannya juga. Biarlah itu cerita – cerita  ada dalam hati kita semua, tak perlu aku menuliskan semuanya ya..^^ thx all guys!

Semoga cerita ini mewakili cerita kita semua.

Categories: Uncategorized | 11 Comments

Post navigation

11 thoughts on “Pendakian Puncak Merbabu

  1. waaah, nice story!🙂
    bikin penasaran sampai puncaknya ><

    • hahahahaha trimaskasih…^^ eh cara penulisanmu dalam blog bagus^^d ,suka bagaimana kamu berceloteh..hahahahaha, salam kenal senang mengenalmu..^^

  2. Cerita yang menarik bro..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: