Shenekos Mistery Terbunuhnya Glencasco 2 By Eko Indriasto

 

“baiklah Nyonya, saya akan berusaha. Bolehkah saya naik ke atas melihat lihat?” mata shen tertuju keatas lantai 2, ruangan luas yang semuanya tak terlihat dari bawah.

“oh ..iya silahkan, saya antar”

Nyonya Glencasco mengantar kami ke lantai 2, kami mengikutinya dari belakang, menaiki tangga.

“bisa anda tunjukan dimana kamar Tuan Glencasco?”

“baiklah.. ”  kami di antar melewati lorong ruangan, pintu yang besar tinggi disisi kanan dan kiri kami, sekalipun rumah ini besar dan luas,mempunyai banyak ruangan ,kebersihan tetap terjaga. Tak kami lihat sedikitpun debu, bau apek layaknya rumah yang tidak terawat. Kami berjalan mendekati sebuah ruangan, terletak di sudut lorong. Berbagai macam lukisan dan perabotan mahal di pajang, memperlihatkan kemegahan,keelokan rumah pengusaha kaya raya ini.

“silahkan masuk, ” Nyonya Glencasco membuka kunci pintu.

“tak ada yang di ijinkan masuk ke ruangan ini,selain dari pihak kepolisian, barang barang yang ada ,posisi tak ada yang berubah semenjak kematian almarhum” terang Nyonya Glencasco memasuki ruangan.

Tak ada yang aneh dengan ruang kerja, semua tertata dengan rapi. Rak buku, berada disebelah belakang meja kerja, tempat sampah pada sudut ruangan, dekat pintu. Jam dinding di sebelah kanan lemari baju, yang terus berdetak., semuanya terlihat tertata pada tempat semestinya. Ku juga tidak mencium bau mencurigakan.

aku melihat shen duduk di kursi, menatap semua penjuru ruangan, melihat dari sudut ke sudut, dari bawah naik keatas. Dia mengeluarkan catatan kecilnya, buku kecil yang dia selalu bawa kemana saja dia pergi, buku berwarna coklat dengan sampul kulit yang mulai usang. Kau akan temukan di saku jas yang dia pakai. Aku tidak terlalu tahu apa yang dia tulis atau gambar,  tangannya lincah memberikan coretan pada catatannya.

“bagaimana shen , ada yang kau temukan?” tanyaku. Aku mendekatinya penasaran, mungkin saja dia sudah menemukan sesuatu dan berbagi denganku. Aku sangat tertarik dengan setiap analisa shen, meskipun saat dia hanya menemukan sedikit titik terang.

“tidak ada ekos, aku tidak menemukan apapun di sini, semua perfect. Tidak ada yang janggal, tapi justru itulah yang menarik ekos, terlihat sempurna, itulah yang menarik bagiku” bibir shen tersenyum, entah apa yang ada dipikirannya aku tidak tahu. Kadang memang sahabatku ini orang yang sangat rumit untuk di pahami, seperti benang yang kusut, berantakan terkena air.

“saat kau bermain bola di lapangan yang kotor, maka wajar jika baju yang kau pakai penuh dengan lumpur, bajumu yang putih berubah menjadi coklat. Ya karena kau berusaha dengan sekuat tenagamu, kau berlari, kau terjatuh tanpa sadar baju yang kau pakai menjadi kotor. Kau terfocus pada permainanmu, tak peduli tentang bajumu.” shen berusaha menjelaskan melalui bahasa yang mudah dipahami, namun tetap saja itu membuat aku , Nyonya Glencasco dan Grasindo  bingung, tak mengerti apa yang shen maksud.

“justru aneh ketika bajumu bersih, apakah kau bermain, apakah kau hanya menjadi pemain yang ada di bangku cadangan sampai pertandingan berakhir?, kau paham ” shen mengkerlingkan matanya, tersenyum. Dia menyalakan rokok, menghisap menutup kedua matanya. Kepulan asap rokok terlihat di wajahnya, naik ke atas , lalu menghilang.

“maaf tuan , disini di larang merokok, bisa anda matikan rokok anda?!” tegas Nyonya Glencasco dengan nada suara yang agak meninggi.

“ah!! Maaf maaf saya tidak tahu.” Shen dengan cepat mematikan rokoknya, meminta maaf menundukan badannya.

“apakah Tuan Glencasco merokok Nyonya?”

“tidak , Dia tidak merokok , dia benci sekali dengan perokok. Pernah sekali pekerja rumah kami merokok  terlihat oleh almarhum, pekerja itu dipanggil almarhum dan di berikan peringatan”

“apakah , pekerja itu akan di pecat?”

“tidak , saya tidak mendengar kalau almarhum mau memecatnya, hanya memang diberikan peringatan keras”

Shen berjalan jalan, melihat lihat lebih teliti. Dia mendekati meja almarhum, membuka buka buku yang tertumpuk di atas meja itu, lalu mengembalikannya kembali.

“nyonya makanannya sudah siap..” terdengar dari pintu , suara yang lembut berasal dari salah satu pembantu rumah tangga, sebentar, kemudian pergi.

“silahkan tuan , kita makan dahulu , anda pastinya lelah dan lapar setelah menempuh perjalanan yang panjang”

“oh , terimakasih..”

Kami keluar dari ruangan, ruangan yang masih menyimpan mistery bagi kami. Tak ada apapun yang kami temukan yang mampu menyibak kelabu permasalahan ini. Kami berjalan turun, mengikuti Nyonya Glencasco dari belakang. Kami hanya terdiam sepanjang perjalanan menuju ruang makan, berbagai macam pemikiran ada di otak kami, kami masih ragu, belum ada yang bisa kami katakan.

“silahkan…duduk”

“iya terimakasih, ” kami di persilahkan duduk, kursinya tinggi dan empuk , seperti kursi para raja di istana, dengan ukiran dua singa yang sedang bertarung pada sandaran kursi , dan dua ekor naga pada sisi kanan dan kiri. Meja makan di depan kami cukup besar, mungkin empat kali lipat dari meja yang ada dirumahku yang cukup untuk dua orang aku dan istriku. Aku duduk di sebelah shen, aku disebelah kanannya dan disebelah kirinya tuan Grasindo.

“silahkan dimakan, ini ada tempe dari Indonesia, tahu goreng, pecel, bakso semuanya kami dapatkan dari rekan kerja kami yang ada di Indonesia, semuanya tidak kalian temukan disini..”

“siapa rekan kerja anda itu Nyonya?!” sentak Shen kaget, penasaran.

“o…dia , Asto, dia rekan kerja almarhum di perusahaan, berasal dari Indonesia,sudah…”

“sebentar,apakah yang anda maksud Creed Asto?!” potong Shen.

“iya , anda tahu rupanya?!”

Shen terdiam , beku, entah apa yang membuatnya seperti itu, pupil matanya membesar, seolah tak percaya apa yang dia dengar barusan, hela nafas yang panjang dari hidungnya terdengar olehku, badannya sedikit bergetar. Dia meletakan kembali sendok dan garpu yang sebelumnya berada pada kedua tangannya.

“Shen kau baik – baik saja” aku merasa ada perbedaan dari dalam diri Shen, tatapan mata Shen kosong, apa yang sedang dia pikirkan?  Siapa Creed Asto?! , Shen mengenalnya?

“maaf, bolehkah saya pergi sebentar…” Shen melangkahkan kakinya pergi dari ruang makan, alisnya mengkerut, pergi meninggalkan kami.

“Shen..!” ku berlari menyusulnya,

Ku lihat Shen berdiri diluar disamping taman, menatap keatas, kelangit yang hitam, tak terlihat bintang, hanya cahaya bulan yang sedikit bersinar dari balik langit yang mendung. Semendung malam ini, sehitam pikiranku tak memahami sahabatku ini. ada apa kau Shen? Siapakah Creed asto itu? hatiku terus bertanya tanya, ku ingin mendekatinya, mencoba bertanya padanya. Tapi…nanti saja, biarkan dia sendiri. Ku berdiri bersandar di pintu, melihat sahabatku Shen tetap berdiri disana, menatap kelangit, menerawang jauh, jauh menembus batasan langit yang terlihat olehku. Ku menunggunya , berharap dia segera membalikkan badan, berjalan mendekatiku masuk ke rumah.

“hujan….” rintik rintik hujan semakin cepat, semakin banyak, menghempas ke tanah yang kering, membasahi dedaunan, bunga- bunga, membentuk genangan – genangan di taman. Shen tetap saja berada di luar. Tak mempedulikan tubuhnya basah kuyup.

“ini payung…,temui dia” tak sadar aku , ternyata Nonya Glencasco berada di sisiku, memberikan ku payung hitam, dengan gagang kayu berwarna gold.

“terimakasih..” ku berjalan mendekati Shen, air hujan membasahinya , membasahi seluruh tubuhnya, matanya terpejam, air mengalir dari rambut turun kemukanya. Wajah yang lesu, tak kulihat semangatnya, dia begitu lemah. Ku geser payungku  untuknya,

“Shen, masuklah…”

Shen membuka kedua matanya, dia tak bisa sembunyikan kesedihannya dariku, bukan…,ketakutan?. kesedihan , ketakutan entah apalagi yang dia rasakan didalam hatinya.

“dia , masih hidup…benarkah…?” suara kecil bergetar shen terdengar ditelingaku, hanya itu.  Dengan tangan kananku ku rangkul bahu sahabatku Shen,sementara tangan kiriku memegang payung, mengajaknya masuk ke rumah.

Siapakah Creed Asto itu? benarkah dia berasal dari Indonesia? Shen mengenalnya?! Baru pertama kali ini aku melihat sahabatku Shen seperti ini.

 

 

Bagai mana kelanjutan Khasus ini ? ikuti kelanjutannya

 Shenekos

Mistery Terbunuhnya Glencasco 3 hahahahaha…..>,<

 

 

 

 

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: