Ku belum nemu judulnya ^^ (latihan menulis hihihi)

r.jpg

“Hey Feb, bangun da pagi! “ Yusri menepuk – nepuk badan Feby.

“Huaaaauum…” feby mulai membuka mata kecilnya, menggerakkan kedua tangan keatas melebar, merapikan baju yang penuh dengan lipatan lipatan jauh dari kesan rapi.

“muana si Kebo jinak , Randi? aaaahhh” Feby menguap, mengucek ucek kedua matanya, tangan kanannya membersihkan air liur yang membekas kering ,putih di sisi kanan dan kiri mulutnya.

“tu, lagi beli gorengan..” Yusri menunjuk ke keluar,mengarahkan matanya ke padagang gorengan yang tak jauh dari tempat mereka tidur, tempat mereka berbagi cerita, tempat mereka berteduh melindungi badan mereka dari air hujan dan panas terik kota jakarta. Tempat yang sederhana, jauh dari kesan glamor , tak seperti rumah para pejabat di gedung DPR. Rumah mereka beralaskan kardus, beratapkan papan triplek. Tak lebar, hanya 4 kali 4 meter. Seng yang mulai usang, berkarat menempel sebagai dinding rumah, masih bisa terlihat dari luar.

“hey bro ini makanan buat sarapan…hehehe” sebungkus gorengan ada di tangan Randi, terbungkus plastik hitam penuh minyak.

“duduk semua!” perintah Randi senyum senyum penuh misteri, seperti mendapatkan uang beberapa juta di jalan kampung. Dibukanya bungkusan dengan kedua tangan Randi, melepaskan ikatan plastik.

“silahkan….” kedua tangan Randi menyilang kemudian membuka melebar seperti seorang Cheff profesional yang menghidangkan makanan hasil masakannya.

“Cuma ini sarapan kita pagi ini…nasi mana nasi bungkus?”  Feby tak percaya nyengir, cemberut, menunjuk 4 gorengan yang terdapat dalam bungkusan, 2 tahu  , 2 tempe plus bonus cabe hijau.

“yah …lumayanlah dari pada tidak ada sama sekali” jawab Yusri bijak.

“nyam…nyam….nyam…enak enak” mulut Randi penuh dengan gorengan tempe yang dia ambil, minyak menetes dari sisi mulut Randi jatuh ke paha Feby.

“wah ! gila loe , ni lap mulut loe, kaya balita latihan makan saja loe, masih belepotan” Feby Kesal. Diberikannya kaos untuk melap , membersihkan mulut Randi dari minyak.

“Thanks Feb..” senggol Randi.

“ya…ya…ya” jawab Feby seperti nenek lampir.

“ni masih ada sisa satu…” Yusri celingak celinguk.

“gue saja ya…laper ni” Feby memegang perut dengan kedua tangannya, memelas.

“ga…ga…gabisa” serobot Randi.

“ih…loe ngalah napa, liat badan loe da kaya Kebo, loe akan kesulitan gerak kalau loe kebanyakan makan, perut loe akan melar, besar, ni liat perut loe” ejek Feby, menepuk nepuk perut Randi yang memang besar seperti bagor beras itu.

“nyam…nyam….nyam…hah, dengerin orang ribut bikin laperrrrr”

“loe! Yus, …loe yang ma..”

“kenapa?, kalian ribut melulu gara gara ni tahu, jadi ya gue makan, selesai dech…ni cabenya” jawab Yusri pelan, santai memberikan cabe ke tanggan Randi dan Feby.

“ah!….pret loe” Randi dan Feby kecewa, dilemparkannya cabe ke muka Yusri.

Gue Yusri , Randi dan Feby adalah sahabat gue. Kami bersahabat sudah sangat lama, sejak SD. Kami tidak meneruskan pendidikan kami ke SMP karena kami sama sama dari keluarga yang kurang mampu, biaya pendidikan sekarang semakin mahal, orang tua kami tidak mampu menyekolahkan kami. Kami harus hidup mandiri , kami tidak mau menyusahkan orang tua kami, kami tidak mau menjadi beban bagi orang tua kami. Sampai suatu saat kami memutuskan untuk hidup lepas dari kedua orang tua kami. Kami ingin menemukan kehidupan kami sendiri, kehidupan yang akan kami jalani berdasarkan pilihan kami.

Randi, gue ketemu randi kelas 3 SD, soalnya gue anak pindahan dari semarang.  dari dulu memang dia gendut. Bukan karena dia kebanyakan makan seperti apa yang dikatakan Feby tadi, tapi memang sejak lahir, dari pembawaan sifat Bapak dan Ibunya yang juga mempunyai berat badan yang berlebih. Dulu dia pendiem, duduk di bangku sebelah pojok paling belakang, sendirian. Awalnya Gue juga ga begitu mengenal, temennya dikit, jarang ada yang mau bergaul dengan dia. Yang pasti Gue tahu, dia butuh temen, dia butuh ada orang yang mampu bantu dia. Dia butuh orang yang mau diajak cerita, bercanda, tertawa layaknya anak anak yang lain.

Cewek tomboy ini bernama Feby, dia satu sekolah dengan kami. Rambut pendek, suka pake baju ga ada lengannya, hoby banget permen sunduk. Inget gue dulu waktu SD, dia sering berantem dengan teman teman cowok, tuk mbelain teman ceweknya gara gara uang saku temennya di ambil paksa dan dia ga terima, dia pukul bagian perut tu cowok sampai jungkir jempalitan kesakitan #hahahaha. Topi merah bertuliskan No Fear selalu dia pake dibalik, moncongnya di belakang,kalau ditambah handuk kecil dilingkarkan ke lehernya, pass kaya kernet metro mini hehehehe. Gue suka Feby sebagai anak cewek yang ga suka mengeluh, gue tahu ini kehidupan terasa berat bagi cewek, tapi Feby ga mau mengeluh, dia mau berusaha keras, berbagi beban dengan kami. Mengamen, bantu bantu angkat barang dagangan, bersih bersih pasar, dia ga malu tuk kerjakan bersama kami. Gue dan Randi salut dengan ni cewek, super Hero lah. “loe malu , jangan makan” itu kata kata yang terus dia pegang.

“Rencana hari ini kita ngapain Yus” tanya Feby, dengan sikap yang tomboy, topi di balik ke belakang sambil bersihin gigi pakai tusuk gigi dari sisa sisa makan gorengan, bersandar di pintu.

“iya , kita kemana Yus” sambung Randi.

“gue blm tahu Feb…Ran” dilihatnya matahari mulai naik keatas, cahaya mulai memasuki rumah mereka, melalui pintu, jendela, celah celah kecil pada seng membentuk sinar sinar kecil dalam ruangan 4 kali 4 mereka.

“yuk ke pasar, mungkin ada yang bisa kita lakuin disana? Gimana?!” feby mengutarakan idenya, tersenyum ,memicingkan sebelah mata kirinya.

Feb, loe memang hebat, gue salut sama loe sejak dulu. Loe beda dengan cewek cewek yang lainnya, yang hanya bisanya memakai kosmetik di muka mereka, yang hanya diam duduk di depan TV. Loe selalu bikin gue semangat dalam njalanin semua ini, walaupun susah, sulit, dengan loe terlihat mudah.

“heh?!!! Gimana Yus!, bengong aja loe..” pukulan kecil dari Feby mendarat ke bahu Yusri yang lagi bengong, memuji ketegaran wanita didahadannya, cewek yang sejak kecil menemani mereka berdua.

“heh?! Apa feb?!” Yusri kaget, salah tingkah, tak mendegar apa yang dikatakan feby barusan.

“sori sori…gimana gimana tadi?!”

“apa yang loe pikiran Yus?!, loe lagi ada masalah?!” sambung Randi, menepuk bahu Yusri.

“ah , tidak bro…”

“gini, kita ke pasar saja, mungkin disana ada yang bisa kita kerjakan…” jelas Feby, mengulang kembali idenya yang tidak didengarkan Yusri.

“hum…ide bagus tu Feb” Yusri mengangkat jempol tangan kanannya mantap.

Untuk bertahan hidup kami harus kerja, kerjaan tak datang sendiri. Kami harus mencari, kepasar, mengamen, kemanapun yang penting ada yang kami  kerjakan dan menghasilkan uang. Uang itu nanti kami buat untuk makan jika ada sisa kami tabung untuk keperluan yang tidak terduga, semisal sakit, atau semisal satu hari kami ga dapet kerjaan, maka uang tabunganlah yang digunakan tuk makan, itu jika memang benar benar kepepet.

“yuk cabut!, eh tas gue tolong Feb” tas kecil srempang, lusuh, berwarna coklat yang berlubang di pojok bagian bawah diambil Feby, lalu di lemparkannya ke Yusri yang sudah menunggu di depan pintu.

“nih , bro!”

“hup, nice!” tangkap Yusri.

“yuk…kita cabut..” Randi ngasih aba aba mengajungkan jari telunjuknya ke arah pasar,bangunan pasar yang telihat dari rumah mereka terlihat kecil,pandangan mata mereka kalah dengan teriknya sinar matahari, yang kian lama kian terasa panas.  Perjuangan akan segera dimulai. Perjuangan mendapatkan sesuap nasi yang sangat berharga, untuk mengisi perut, menyambung hidup 3 anak muda ini.

Tercium bau menyengat, lalat lalat yang berterbangan dari berbagai arah,mereka turun hinggap ditumpukan tumpukan sampah. Kami melewati jalan kecil seperti lembah, disisi kanan dan kiri kami berdiri tumpukan tumpukan sampah yang kian meninggi, membentuk deretan gunung lebih tinggi dari kami. Kami mempercepat langkah kaki jika melewati jalan ini, menutup hidung, memperlambat tarikan nafas kami.

Rumah tua sederhana, sesederhana rumah kami berjejer memanjang. Beratapkan seng seng yang mulai berlubang, ditindihi batu agar tidak terbang terbawa angin. Dinding dari gedek, yang kian hari kian rusak tak serapat dulu termakan rayap, mungkin kucing dan anjing bisa masuk kedalam. Kain kain bekas poster tertempel didinding rumah mereka untuk menutupi, bertuliskan jarum, konimex.

“pelan pelan kawan…” keluh Randi yang ada dibelakang. Mencoba mempercepat langkahnya.

“ok ok Kebo jinak..makanya kecilin perut loe” Feby menengok ke belakang, ke arah Randi tersenyum nakal.

“udah Feb…” sambung Yusri.

“ah! Ga tahu tu Feby, selalu meledek gue…” balas Randi kesal. Masih berjuang mempercepat langkah kaki menyusul kedua temannya di depan.

“ni kakek masih jualan sejak dulu ya Yus…” mata Feby tertuju pada seorang kakek tua, berbaju batik lusuh berwarna coklat penjual singkong rebus. Tangan yang kecil, keriput dengan lincah membungkus singkong rebus barang dagangannya menggunakan daun pisang, lalu ia lapisi lagi dengan kertas koran. Senyumnya penuh syukur, dan ketulusan memberikan bungkusan kepada para pembeli yang berkerumun dihadapannya.

“kakek itu hebat ya Feb, sudah tua…tapi tetap semangat, selalu tersenyum..gue suka lihat senyum orang tua, nenek nenek  kakek kakek, sunyumnya tu tulus…walaupun emang giginya da ga lengkap lagi hihihi..” Yusri tersenyum.

“bener loe Yus…” jawab Randi pelan, mendekati kedua temannya, mengarahkan matanya kepada kakek 70an tahun itu.

“pokoknya kita harus tetap semangat!, kitakan masih muda! Ga boleh kalah dengan tu kakek! ” Feby tiba tiba berteriak, mengepalkan tangannya, seperti pejuang 45 dengan ikat merah putih di jidat, dan bambu runcing di tangan kanannya.

“okaaaaaaaaayyyy!!! Semangat membara, membakar dalam dada..” diletakkannya kepalan tangan kanan Randi di dadanya,badannya tegap berdiri,  menatap tajam kedepan.

“gue suka loe…Ran,tetap semangat bo!” celetuk Feby pelan, menatap sayu mata Randi.

“Feb….”

“sudah, ayo kita lanjutin perjalanan kita kawan!” kedua tangan Yusri menepuk bahu kedua sahabatnya, menatap wajah Feby kemudian Randi.

“okay bro…!”jawab  Randi dan Feby barengan.

“lariiiii….!!!!” teriak Feby. Mempercepat langkahnya, meninggalkan kedua sahabatnya.

“Feb tungguin…!!” Yusri menyusul . Mempercepat langkah kakinya, terlihat dari belakang punggung Feby yang tengah berlari, tu anak memang penuh semangat, energic, gue..harus lebih semangat! kata Yusri dalam hati, tersenyum.

“tungguin gue..!!!, ah ! gila kalian ninggal lagi..!!” teriak Randi.

“hahahahahaha..hahahaha,okaysobat!”Yusri,tertawa,berhenti,mengulurkan tangan kanannya ke arah Randi yang semakin lama semakin mendekat.

“ayo kalian, kalau bisa kejar gue! Hahahaha…” terdengar suara Feby yang sudah berada di depan terliat kecil, mengangkat topi digerakkannya kekanan dan kekiri.

“hahahahaha…” tawa Randi dan Yusri bareng.

Kami 3 sahabat, yang akan tumbuh bersama, menjadi dewasa. Menghadapi setiap rintangan yang ada, kau dan aku ,kita bersatu akan semakin kuat. Akan ku gunakan tanganku ini untuk menghapus air matamu saat kau sedih, aku akan rela menjadi orang yang bodoh, konyol, terliat goblok dimatamu tuk membuatmu tertawa. Sahabat adalah anugerah yang Tuhan berikan, mereka yang mengajarkan banyak hal, mereka ikut ambil bagian dalam membentuk seperti apa diri kita. Ku menghormati mereka, ku menghargai mereka kata hati Randi, memahami betapa berartinya sahabat – sahabatnya bagi dia, memahami betapa sulitnya menjalani kehidupan ini tanpa sahabat – sahabatnya yang selalu disampingnya, menyemangatinya, menghiburnya.

Bersambung…..^^ ikuti kelanjutannya ya…XP

By Eko indriasto yang lagi belajar menulis lis..ketik ketik , semau gue..Xp weks…hihihi

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: