Dibalik Konvoi dan Kembang Api.

kembang api

Rabu(07/08) ,menjadi hari terakhir bagi umat muslim menjalankan ibadah puasa, malam ini akan menjadi malam yang sangat ramai. Saya percaya tingkat keramaian jalan raya depan rumah saya akan bertambah. Setelah diputuskannya hari kamis (08/08) merupakan hari Idul Fitri 1434 H dalam sidang Isbat ,bedug mulai ditabuh, kumandang takbir mulai terdengar di masjid – masjid dekat rumah saya.

Mercon, Kembang api terdengar dari berbagai macam arah memeriahkan malam takbir. Kembang api mewarnai langit, motor , mobil melakukan konvoi. Malam takbir ,mengingatkan saya akan kenangan masa kecil, masih ingat saya kala itu duduk dibangku TK. Saya mengikuti malam takbir bersama dengan teman – teman saya, naik mobil bak terbuka berkeliling, sambil menabuh bedug. Beberapa teman saya ada yang membawa obor, ramai dan seru. Namanya juga anak kecil, saya tertidur dan bangun – bangun sudah pagi hari😀.

Tak ada yang salah melakukan konvoi asal tertib dan tidak mengganggu kepentingan umum. Namun sayangnya ada beberapa orang yang dengan sengaja , sadar, tak tertidur, dalam kondisi melek ni memainkan gas motor mereka, membunyikan klakson sehingga menciptakan kebisingan. Tentu saja ini mengganggu, kita tidak tahu kondisi orang – orang disekitar kita. Bagaimana dengan orang yang saat itu sedang sakit? Orang yang mau istirahat?,apa kalian tak memikirkan hal itu?

Tak semua orang menyukai kembang api, itu kenyataannya, salah satunya adalah keluarga saya. Beberapa kembang api diarahkan ke atas rumah kami, menciptakan bunyi yang sangat keras, Ibu tak menyukainya, sangat bising. Dia ingin tidur dan istirahat jadi terganggu, sampai dia memutuskan untuk pergi ke rumah tetangga karena tidak kuat dengan kebisingan yang diciptakan.

Sempat suatu ketika ibu emosi, membuka pintu rumah,  dan memperhatikan orang yang mengarahkan kembang api ke atas rumah kami.   Syukurlah mereka paham dengan sikap ibu, kemudian mereka menghentikan ,dan dengan cepat masuk ke rumah mereka tanpa ibu harus menghampiri mereka.

Saya menjadi paham, dibelakang konvoi,suara kembang api yang megah nan indah, menghiasi langit ,kadang tanpa kita sadari telah mengganggu orang lain, bahkan bisa menciptakan benih – benih kebencian dihati orang lain, ini sangatlah buruk.

ya, jalan yang terbaik adalah satu hari sebelum perayaan Idul Fitri ,tepatnya sebelum malam takbir, ibu harus sudah berada di rumah saudara di Boyolali. Disana jauh lebih tenang,mengingat memang kondisi kesehatan ibu yang tidak begitu baik. Pengalaman yang sangat berharga bagi saya dan keluarga kami.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: