Si-Buku

 book

“Kau berbagi ,kau curhat tanpa rasa sungkan kepadaku, tak ada yang kau tutup tutupi kau jujur padaku. Kau juga tak berpikir tentang siapa aku ini, tentang siapa yang sedang kau ajak berbagi, kau cerita begitu saja.”

Saya tidak sedang menceritakan tentang teman saya, ataupun sahabat saya bernama, Toni , Ani ataupun Budi. Saya sedang membicarakan tentang Si Buku. Andaikan buku itu adalah nama manusia maka saya katakan, saya suka berbagi dengannya, sayangnya tidak.

Beberapa hari ini saya sering pergi ke perpustakaan daerah Salatiga, memilih buku dirak, mengambilnya dan membacanya. Saya duduk ,tepat didepan saya ada jendela, saya bisa membaca dengan tenang, menikmati sejuknya udara. Sesekali saya terdiam, menyaksikan tower yang menjulang tinggi terlihat kecil, saya merenung tentang isi buku yang saya baca.  “Buku membagikan berbagai macam hal yang belum kita ketahui, Buku mengajak kita berbagi”.

Saya beruntung buku tak mempunyai rasa malu, sungkan ataupun banyak pikiran tentang siapa yang membaca. Saya tak perlu memancingnya untuk banyak bercerita, untuk mengungkapkan isi hatinya. Saya hanya perlu membacanya dengan pelan membuka dari halaman ke halaman, dia sudah ceritakan banyak hal. Dia kadang membuatku tertawa, bersedih, kagum. Dia mendidik saya untuk saya menjadi lebih bijak dengan berbagai macam pengalamannya. Lewatnya, mata, hati dan pikiran saya dibukakan. Lewat buku banyak orang – orang hebat bercerita , berbagi pengalaman mereka, pemikiran mereka.

Ya , saya menyadari saya tak bisa melewati berbagai macam moment, pengalaman. Saya bukan seorang ahli astronomi, saya bukan seorang motivator, saya bukan seorang pendaki gunung Everest. Tapi lewat Buku saya bisa mengetahui itu semua tanpa saya harus melewatinya. Saya mendengar cerita mereka, mereka dengan antusias bercerita lewat buku kepada saya. Buku tak mempedulikan saya seorang mahasiswa yang belum lulus, juga tak memperdulikan Ip saya yang pas – pasan, ataupun diri saya yang berkulit coklat dengan tubuh kecil saya. Buku tak merendahkan saya,siapapun diri saya, diri anda, dia tetap mau berbagi dengan kita.

Buku akan diam saja ketika anda tidak paham, dia tidak mengolok –olok anda, dan mengatakan anda bodoh, dia akan memberikan waktu kepada kita untuk diam, memahami dan merenungkan. Jika kita belum paham juga, dia akan berikan kesempatan kepada kita untuk membacanya kembali, dengan isi yang sama tak berbeda. Ya itulah pandangan saya tentang si Buku.

“Ketika saya masuk ke perpustakaan, saya melihat banyak sekali orang – orang hebat ingin berbagi cerita dengan saya, mereka duduk berderet dengan rapi pada rak terbuat dari kayu.” Eko Indriasto. Penulis ekoindriasto.wordpress.com dan batftek.wordpress.com

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: