Etika Memotret. “Wajar jika dulu saya langsung di”sikat””

memotret

“Wajar..jika dulu saya langsung di “sikat” saat memotret hihihi” itulah pikiran saya ketika saya mengikuti kelas Akademi berbagi Salatiga , sabtu (12/10), di Goldmine Coffee House. Awalnya sempat jengkel juga, baru asik – asik memotret langsung diingetin dengan nada suara agak meninggi, tapi sekarang tidak,saya paham, saya mengerti setelah saya mengikuti kelas ini.  Ini kedua kalinya saya mengikuti kelas Akademi Berbagi, sebelumnya saya mengikuti kelas Travel Writer, dan kali ini mengambil tema Etika Memotret dan Foto Pementasan.

Banyak hal yang saya dapatkan setelah mengikuti kelas ini, terkhusus tentang Etika memotret, bagaimana menjadi Fotografer yang baik, bagaimana cara kita meminimalkan gerakan kita sehingga tidak mengganggu orang lain, memang kelihatannya sepele, tapi kita harus paham.

Saya akan bercerita sedikit tentang pengalaman saya waktu memotret. Waktu itu  saya ingin meliput inagurasi OMB, saya mau menuliskan dalam Buletin Anak Teknik Fakultas, saya memakai camera pocket.

Inilah kesalahan saya😀, saya tidak memakai cocard, sebagai identitas, dan juga belum ijin. Saya langsung nylonong ambil gambar, cepret,cepret. Kadang jalan pelan – pelan ketengah, cepret. “mas dari mana?! , tolong ya jangan ke tengah tengah, nanti nular ke yang lain, kami sudah lelah!” itulah kata seorang wanita menenteng camera DLSR kesal. “Saya dari Buletin Anak Teknik, batasnya dimana saya bisa ambil foto?!” dengan emosi agak naik..agak..😀,trus.. lupa saya lanjutannya Hahahaha😀.

Saya menyadari saat itu saya salah, awalnya saya tak begitu paham. Dan barulah setelah mengikuti kelas ini saya paham perlunya Etika memotret, ga boleh asal nylonong ambil gambar, lari kesan kemari, duduk, jalan kesana lagi, ini akan sangat mengganggu. Dan jangan sok , udah nenteng DLSR keliatan paleng keren, bebas sesuka kalian lari sana sini, kita harus paham etika memotret, ada normanya kalau mas Budi bilang😀.

Memang sayapun menyadari keadaan ini terjadi dilingkungan kita, ada camera, semua bisa ambil gambar. Lupa bahwa mereka tak sendiri, disisi kanan kiri , depan belakang ada orang lain yang sedang menonton. Gerakan mereka bisa mengganggu kenyamanan para penonton.

Tentunya saya paham , ini tentang kesadaran diri, dan dimulai dari dalam diri saya sendiri.

sumber foto : google

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: