Tulis saja.., tulis saja..

tulis Melihat berbagai macam buku mengenai menulis berjejer di rak perpustakaan menyadarkan saya bahwa menulis ternyata bukan keterampilan yang mudah. Tidak hanya satu dua buku, banyak, semuanya mengenai tips and trick menulis. “Menulis itu mudah”, “kekuatan pena”, dan masih banyak judul lagi, semuanya itu rapi tertata dirak berwarna coklat terbuat dari kayu.

Terlepas dari bakat yang ada sejak kecil, menulis memerlukan latihan. Tidak mudah untuk memulai menuliskan apa yang ada didalam pikiran kedalam sebuah media seperti kertas, atau saat ini bisa kita ketik di laptop atau PC.

Masih ingat saya waktu awal mulai menulis , buntu, kehilangan ide, “mulai dari mana ya..”, semua itu saya rasakan, bingung. Kelihatannya memang mudah, apa yang ada dipikiran tinggal kita tulis, simpel, tapi tidak bisa dipunggkiri memang menulis memerlukan latihan.

Saya pahami tidak semua orang akan selalu ada disamping kita, termasuk sahabat kita sekalipun. Yang katanya sahabat akan selalu ada di waktu susah dan senang, kenyataannya tidak, itu realitanya. Banyak hal yang ingin saya bagikan, mulai dari pemikiran, sudut pandang, dari cerita yang sok intelek sampai cerita yang mengundang gelak tawa, tak jelas yang penting happy.

Saya butuh media untuk mengeluarkan itu semua, rasanya tidak bisa terlalu lama untuk di pendam dalam otak, apalagi hati, harus dikeluarkan.    Untung – untung ada orang yang mau mendengarkan, bahasa kerennya teman curhat, kalau tidak ada?. Dan menulis itulah sarana saya untuk mengeluarkan semuanya, apa yang saya pikirkan , rasakan, semuanya, tek tek bengek dalam diri. Saya tidak pedulikan tata bahasa, saya tidak pedulikan apa itu EYD, apa yang ada dipikiran saya keluarkan semuanya dalam tulisan saya.

Saya tidak pedulikan tanggapan orang tentang tata bahasa, ini mengenai diri saya. Saya takkan malu jika mereka meledek tentang tulisan saya, yang katanya lucu, dan mengundang gelak tawa.  Saya tanggapi dengan santai, mereka membacanya, bagus, itu saja.

Wajar jika ada sebuah pro kontra tentang sebuah tulisan. Itu artinya mereka tidak memakan mentah – mentah, tapi mencoba berpikir kembali dan mulai menelaah. Pro kontra tak bisa kita hindari, mengingat kita sedang bersama dengan bermiliaran manusia dengan berbagai macam pikiran di dunia ini. Mereka unik, mereka bebas berpikir. Tidak bisa kita menuntut mereka sependapat dengan kita, memberti anjungan jempol, like or dislike.

Ada yang pernah berkata, “ingin menulis tulis saja, tidak usah dipikirkan”. Dari mana awal kalimat itu muncul dipikiran , dari situlah dimulai, berpikir malah membuat bingung. Mengalir, ikuti saja kemana pikiran itu membawa kita. Tidak usah dipaksakan kekiri atau kekanan, jika ingin ketoko bunga ikut saja , walaupun tujuan awal mau ke toko buah. Biarkan berjalan sesuai dengan kemauannya, akan terasa lebih nyaman.

Saya sedikit mengutip perkataan Yudasmoro dalam bukunya travel writer “menulis bagi saya bukan hanya merangkai alfabet menjadi sebuah kata, kalimat, paragraf atau artikel. Menulis adalah cerminan cara berpikir kita. menulis adalah membangun landmark diri kamu pada sebuah media yang berbeda. Kalau menara petronas menjadi landmark Malaysia dan Monas adalah landmark Jakarta, tulisanmu adalah landmark yang kamu bangun tentang diri kamu sendiri”

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: