Berkebun

???????????????????????????????

Liburan Natal kami isi dengan berkebun, membantu orang tua kami merawat tanaman cabe.Untuk sampai di kebun cabe, kami harus melewati perkebunan salak.

???????????????????????????????

Jalan dengan lebar 2 m barusan selesai di bangun. Pembangunan dilakukan secara bergotong royong seluruh masyarakat Desa Jetis.  Fidela berjalan , sebelah kanan merupakan perkebunan salak yang  digunakan sebagai tempat Agro Wisata. Terlihat kebun cabe kami berada di ujung jalan.

???????????????????????????????

Ini lah perkebunan cabe kami. Tidak terlalu luas, kami mempunyai lahan dua petak.  Ini menjadi kali pertama kami menanam cabe, bisa dibilang tahap pembelajaran bagi kami. Sebelumnya kami menanam Jagung dan Padi. Tidak terlalu rumit untuk menanam kedua tanaman ini, tidak seperti tanaman cabe yang memerlukan perhatian lebih, seperti memasang plastik, memotong cabang agar tanaman cabe tumbuh tinggi dan memasang lanjaran.

???????????????????????????????

Saya memotong tali rafia, tali ini akan saya gunakan untuk mengikat tanaman cabe dengan lanjaran. Lanjaran digunakan untuk membantu tanaman cabe agar tetap tegak berdiri, tidak roboh tertiup angin. Lanjaran terbuat dari bambu yang di potong kecil – kecil tinggi 2 m, bagian ujung di buat runcing untuk mempermudah dalam menancapkan ketanah.

???????????????????????????????

???????????????????????????????

Saya dan adik perempuan saya Fidela, mengikat tanaman cabe dengan lanjaran. mengikat dilakukan dengan cara menyilang.

???????????????????????????????

Tanaman cabe di ikat secara menyilang dengan lanjaran.

???????????????????????????????

Foto Narsis bersama di kebun cabe.

???????????????????????????????

Buah – buah  kelengkeng yang masih muda dimasukan kedalam brongsongan. Brosongan terbuat dari bambu digunakan untuk mencegah hama, seperti codot yang sering kali memakan buah kelengkeng. Buah Kelengkeng merupakan buah khas Bandungan, buahnya kecil mempunyai rasa manis. Pohon buah kelengkeng tumbuh didepan rumah kami , pernah suatu ketika hampir mati, namun masih bisa terselamatkan,

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: