Strike Waderan, Bendungan Karanglo.

ImageCuaca pagi itu tidak terlalu bersahabat langit tampak mendung, tidak terlihat matahari,tetapi saya dan Pur tetap berangkat memancing. Semua sudah di persiapan oleh teman saya ini, mulai dari joran, tempat ikan, dan umpan. Kali ini wader menjadi target pancingan kami. Roti kuning menjadi umpan, Pur memberikan sedikit air lalu meremas, membuat menjadi lembut berbentuk bola. Setelah kami cek , dan semua sudah siap ,kami berangkat.

Dari Patimura sampai ke spot pemancingan Bendungan karanglo kurang lebih membutuhkan waktu 15 menit dengan mengendarai sepeda motor. Jalan yang berliku dan berlubang mengharuskan saya mengurangi kecepatan motor demi keselamatan kami. Kami berhenti sejenak di indomaret untuk membeli air minum.

Perjalanan kami lanjutkan, sesampai di Bendungan Karanglo kami lekas mempersiapkan peralatan pancing kami. “ko..kesana yuk , turun, kemarin bapaknya dapat besar – besar disana” ajak Pur sambil menunjukkan spot berada di bawah tempat kami berdiri . Spotnya lumayan susah, turun kebawah, curam. Kami harus turun, dan ketengah sungai. Kami mencoba mencari jalan yang aman untuk menjangkau spot tersebut.

Untuk turun ke tempat spot memancing, kami saling bekerjasama. Saya berjalan duluan di ikuti Pur di belakang saya, bergantian membawa barang bawaan. Sampai di bawah ,kami  masih harus menuju ketengah sungai, melewati bebatuan.  Kondisi batu yang licin membuat kami harus hati – hati.

Gerimis , baru sebentar memancing kami harus naik kembali. Ini sangat berbahaya jika kami tetap teruskan, kami tidak tahu kondisi di atas sungai seperti apa, bisa jadi jauh disana, sudah hujan  , mengakibatkan perubahan aliran sungai yang sangat cepat. Kami memutuskan memancing di tempat yang aman, sembari menunggu hujan reda. Tampak raut muka Pur kecewa, dia masih ingin berada di spot tersebut.

“kita seperti orang bodoh memancing disini” tuturnya. “tidak apa apa keselamatan kita jauh lebih penting hahahaha”.  Kami memancing di atas bendungan, ini jauh lebih aman. Perlombaan kami mulai, tidak perlu waktu lama saya mengawali dengan strike. Cuaca mulai berubah, hujan mereda, matahari mulai tampak sedikit, menyembul dari awan. “hujan reda ni ko..kesana yuk!” ajak Pur ke spot impiannya.  Tampak tidak ada perubahan derasnya air, kami memutuskan untuk berpindah spot.

Spot kedua ini lebih berbahaya, kami turun melewati dinding bendungan kurang lebih setinggi 2.5 meter. Ini melebihi tinggi badan  kami. Untuk melewati dinding pertama kami harus bergelantung ke tembok terlebih dahulu, tumpuan berat badan ada pada kekuatan kedua tangan kami. Kami mengayunkan badan kami kekanan, lalu loncat kebawah.  Gerakan ini mudah bagi saya, tetapi untuk Pur , saya percaya ini sedikit lebih susah baginya. Kami menyebarang bendungan, pelan – pelan karena sangat licin.

ImageTantangan kedua, jika tadi kami harus turun , sekarang kami harus naik dinding setinggi 2,5 m. Untung saja masih ada pijakan sedikit di dinding, Pur membantu saya naik ke atas mendorong badan saya. Awalnya saya sangat ragu, apakah teman saya ini bisa naik dinding setinggi ini dengan berat badan yang tidak bisa di bilang ringan itu. Dengan kekuatan kedua tangannya pur berjuang naik keatas, bukan sesuatu yang mudah. “tolong …tenaga ku habis” teriaknya. Saya membantu menarik tubuhnya, dan kami berhasil menyebrang.

ImageTidak berhenti di situ,tantangan belum berakhir, kami masih harus turun menuju spot yang kami tuju, dream spot, tepatnya saya beri nama Pur dream spot. Saya berada di depan mencari jalan.   Banyaknya rerumputan mengahalangi jalan yang akan kami lalui. Kami harus memastikan keamanan jalan tersebut. Kami mendekatkan tubuh kami sedekat mungkin dengan tebing, kedua tangan kami berpengangan pada tumbuh – tumbuhan. Tentu kami tidak mengandalkan berat badan kami sepenuhnya dengan kekuatan tumbuh- tumbuhan yang kami pegang, diperlukan sedikit teknik meringankan tubuh. Pur mengikuti tapak jalan saya, dan syukurlah kami sampai di Pur dream spot dengan selamat.

Kami mulai memancing, memasang umpan. Pur dengan pengalamannya mengukur terlebih dahulu kedalaman air, ini berguna untuk menentukan ketinggian pelampung dan berat timbel. “segini ko.., kamu tinggiin pelampungnya, airnya dalem” terangnya. Ya, disinilah saya mulai terkejar, diatas tadi saya sempat unggul 4 -1 , namun disini Pur beberapa kali strike dan saya nihil. Pemandangan yang manakjubkan, kami berada di bawah bendungan, kami duduk di batu besar, depan kami dindingc  bendungan menjulang tinggi, serasa kami berada di bawah air terjun. Hari mulai siang, ikan tampak sepi memakan umpan kami. Kami mulai memutuskan untuk naik berpindah spot.Image Sama, tidak kami rasakan ada ikan memakan umpan kami. Mungkin memang ikan tidak mau makan ketika hari mulai siang.  Ini pengalaman kedua kami,hal inipun juga pernah terjadi ketika kami memancing di bejalen , rawa pening. Kami memutuskan untuk pulang, kembali ke kost.  Memancing kali ini , kemenangan untuk teman saya Pur, dia unggul dua ikan dari saya, skor akhir 5 -7.    

 

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: